Siti Hardiyanti Rukmana: Teladani Kesabaran Rasulullah

0

JAKARTA – Hj. Siti Hardiyanti Rukmana yang akrab pula disapa Mbak Tutut, bersilaturahmi dengan jamaah majelis taklim Faqihatuddin, di Masjid Darussalam, Fatmawati, Jakarta Selatan, dalam rangka perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Perayaan maulid begitu meriah. Selain kehadiran Mbak Tutut, juga dihadiri Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso, Raslina Rashidin caleg DPR RI Partai Berkarya, Aguy Kartasasmita caleg DPRD DKI, dan lainnya. Sebanyak 54 majelis taklim berkumpul di Masjid Darussalam, memeriahkan perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Dalam sambutannya, Mbak Tutut mengatakan bahwa dalam perayaan Maulid, peran Nabi Besar Muhammad SAW harus diikuti, diteladani, sesuai sifat dari Rasulullah. Mbak Tutut mengatakan, salah satu sifat Rasulullah, yaitu sabar.

Dirinya juga bercerita ketika sang ayah, sosok Presiden Soeharto ingin berhenti, semua anaknya dipanggil untuk mendengarkan petuah. Beliau menyampaikan agar semua anak sabar, menerima, dan tidak dendam dengan semua yang telah terjadi.

Hj. Siti Hardiyanti Rukmana – Foto Muhammad Fahrizal

“Almarhum Bapak Soeharto mengingatkan kita semua, anak-anaknya, agar mengikuti, menjalani, sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW. Apa yang dikatakan bapak agar anak-anak sabar dan tidak dendam merupakan cerminan dari sifat Rasulullah. Secara tidak langsung, bapak mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mengikuti sifat dan teladan dari Rasulullah,” ucapnya, Sabtu (22/12/2018).

Dalam kesempatan itu juga Mbak Tutut berdialog, berbincang bincang, tanya jawab dengan para jamaah. Salah satunya, Ibu Maimunah yang sangat rindu akan kehidupan di zaman kepemimpinan Presiden Soeharto.

Baca Juga:  TUTUT SOEHARTO BERI SEMANGAT KORBAN TSUNAMI DI LAMSEL
Kedatangan Mbak Tutut disambut suka cita jamaah – Foto Muhammad Fahrizal

Menutup tanya jawab, Mbak Tutut mengingatkan kembali kepada para jamaah agar senantiasa meneladani sifat sabar Nabi Muhammad SAW.

 

Mungkin anda juga ingin membaca
Nikmati Hidup ini Teringat akan suatu saat di tahun 80-an dimana waktu itu aku akan mencoba ikut tender jalan tol yang diselenggarakan oleh Jasa Marga. Namun sebelumnya...
Jalan Tol I: Saya Memilih Bersama Kaum Muda Sahabat..., kali ini, saya ingin bercerita, tentang proses pembangunan Jalan Layang Cawang-Priok. Bukan hanya bagaimana keberhasilan itu dicapai, namu...
MENEMUI PENGAMEN JALANAN Suatu sore, sepulang bapak dari bermain golf di Rawamangun, bapak memanggil saya. Kalau tidak salah bulan Juli 1986 waktu itu. Obos Gembok (Alm), ...
Jalan Tol IV: Kami Tidak Dapat Hanya Menunggu Sahabat, Ternyata setelah kemenangan kami dalam tender jalan toll ini, masih banyak persoalan yang harus kami selesaikan. Karena proyek jalan toll Ca...
Keluarga Cendana Gelar Haul ke 11 Pak Harto JAKARTA – Keluarga Cendana menggelar haul ke 11 wafatnya Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto. Haul digelar dengan mengirim doa melantunkan Su...
MEMERANGI LEPROPHOBYA (1): MENEPIS KERAGUAN Suatu hari di pertengahan tahun 1987, saya mendapat surat dari RS Sitanala yang menyatakan bahwa mereka menginginkan saya ikut menangani mantan penyan...
Kenapa Saya Dipanggil Tutut Ada yang menanyakan kenapa saya dipanggil Tutut. Sebetulnya bukan sahabat saja yang bingung dengan nama panggilan itu. Waktu saya masih kecil, saya pe...

Leave A Reply

Your email address will not be published.