“PASKIBRAKA”

Oleh: Siti Hardiyanti Rukmana

8

Setiap kali saya meliat foto di atas, rasa bangga, haru dan bahagia selalu menyelimutiku. Saya ingat betul bagaimana Danty sampai terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA). Danty SMA di Lab School, Rawa Mangun, dimana Kepala Sekolah nya saat itu adalah pak Arief Rahman. Alhamdulillah Danty prestasi sekolahnya bagus, sehingga dia dipilih sekolahnya bersama satu orang siswa laki-laki untuk ikut tes penyeleksian anggota PASKIBRAKA, yang nantinya akan mewakili DKI, dimana yang boleh mengikuti adalah anak yang berprestasi dan ranking di kelasnya.

Pada pendaftaran pertama saya tidak tahu menahu. Namun akhirnya saya tahu dia ikut serta. Waktu saya tanya apakah dia ikut tes tersebut, Danty minta pada saya : “Mama dan juga papa, tolong jangan ikut campur dalam tes penyeleksian ini ya, biar Danty sendiri yang menghadapi.”

Saya tanyakan : “Kena apa mbak, kan mama ingin tahu dan mengikuti proses nya dan juga hasilnya.”

Dia menjawab: “Papa dan mama, doa kan Danty berhasil dalam tes penyeleksian ini. Kalau Danty tidak berhasil, Danty mohon maaf sebesar-besarnya ya Ma, Pa. Tapi kalau Danty berhasil, Danty ingin, semua bukan fasilitas karena eyang jadi Presiden. Mudah-mudahan Danty dapat membuat mama, papa, eyang kakung dan eyang putri serta saudara-saudara bangga, aamiin”

Mendengar dia berkata begitu, saya peluk erat dia, rasa haru tak dapat dibendung. Saya katakan : “Aamiin, mama akan selalu berdoa untukmu wuk, semoga kemudahan, keteguhan, kesabaran, kesehatan, keberhasilan, perlindungan dan petunjuk selalu Allah berikan padamu ya wuk, aamiin.”

Alhamdulillah, terima kasih ya Robb, Anak perempuan kecilku, ternyata sudah dewasa, tumbuh menjadi gadis yang berbudi pekerti dan bijaksana.

Baca Juga:  Kenapa Saya Dipanggil Tutut

Setiap hari hanya doa yang dapat menemani gadisku, sesuai permohonannya padaku. Saya harus yakin bahwa anakku mampu melewati semua tes yang dihadapinya, dan memohon pertolongan-Nya, untuk keberhasilnya anak gadisku.

Saya laporkan kepada bapak dan ibu tentang Danty mewakili sekolahnya mengikuti tes penyeleksian menjadi PASKIBRAKA. Saya sampaikan pula keinginan Danty supaya kita tidak ikut campur, biar dia berusaha dengan kemampuannya. Bapak dan ibu sangat bahagia mendengar berita itu, dan Alhamdulillah bapak ibu sangat menghargai dan bangga atas keputusan Danty, dan kita harus mendukung keinginannya.

Setiap pulang dari tes, saya selalu menanyakan bagaimana hasilnya. Danty selalu menjawab: “Alhamdulillah bisa mah, doakan Danty selalu ya mah.”

“Ada yang tahu nggak kamu cucunya eyang wuk?” aku bertanya.

“Alhamdulillah sampai saat ini nggak ada mah. Mereka tahunya aku perwakilan dari Lab School.”

Akhirnya suatu hari, dia datang dengan senyum manisnya sambil memeluk saya: “ Papa, mama, Alhamdulillah Danty terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.”

Dalam hati saya berbisik: “Terima kasih ya Allah, telah kau izinkan anakku untuk menjadi salah satu Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Berilah anakku Danty kemampuan untuk dapat melaksanakannya dengan baik, benar dan sukses, aamiin.”

Pada saat dia harus masuk pelatihan di Cibubur, rasa rindu selalu ingin melihat Danty, dan ingin tahu bisakah dia melewati latihan-latihan yang diberikan pada para siswa.

Baca Juga:  Jalan Tol V: Mintalah Petunjuk pada Tuhan

Ada salah seorang instruktur, kawan saya (dan Danty saat itu sudah dikenal bahwa dia anak saya dan cucunya bapak), saya sampaikan saya ingin menengok Danty bisa apa tidak. Dia bilang sekarang belum bisa, nanti ada saatnya untuk berkunjung.

Berita ini sampai ke Danty, dia minta izin untuk menelpon saya, dan di telpon dia bilang: “ Mama, jangan datang sekarang ya, teman-teman yang lain juga tidak ada yang dijenguk. Kalau mama kesini sekarang, aku malu mah. Nanti ada waktunya untuk menjenguk kok mah. Mama doakan Danty saja.”

“Iya mbak, mama akan selalu berdoa untukmu. Jaga kesehatan ya wuk, jaga diri baik-baik, jangan lupa sholat.”

“Iya mah, insya Allah.” Jawabnya.

Lalu, kabar yang menggembirakan dan mengharukan pun datang mengunjungi rumah kami, bahwa anakku Danty terpilih menjadi pembawa Bendera Pusaka. Sujud syukur langsung aku kerjakan, bersyukur dan berterima kasih atas segala karunia dan terpilihnya Danty menjadi pembawa Bendera Pusaka pada upacara kenegaraan memperingati hari kemerdekaan yang ke-45 bangsa Indonesia.

Hari yang kita nantikan pun datang. Sepanjang upacara berlangsung tidak henti-hentinya saya berdoa agar Danty diberi kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan upacara sampai selesai. Pada saat dia menaiki tangga, saya tak berani menatapnya, takut tak dapat menahan derai air mata, yang telah saya coba tahan dari tadi.Sebentar lagi Danty Rukmana (nama lengkapnya Danty Indriastuty Purnamasari Rukmana), siswa SMA dari DKI, menerima bendera pusaka dari Presiden ke-II Republik Indonesia.

Baca Juga:  MEMERANGI LEPROPHOBYA (1): MENEPIS KERAGUAN

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Digahayu Indonesia.
Jayalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, Jayalah Indonesiaku.
M E R D E K A !!!!!!!!

Jakarta 17 Agustus 2018.
Pukul 05.00, Usai subuh.

Mungkin anda juga ingin membaca
MEMERANGI LEPROPHOBYA (3): TITIK TERANG DI SUDUT HARAPAN Selepas dari kunjungan ke Rumah Sakit Sitanala, di setiap kerja saya ke daerah, selalu memberikan penyuluhan pada masyarakat muda maupun tua. Merek...
Mbak Tutut: Tugas Pasma KRN Menjaga NKRI BITUNG – Siti Hardiyanti Rukmana, familier disapa Mbak Tutut, mengajak kepada seluruh peserta pasukan utama (pasma) kirab remaja nasional (KRN), untuk...
Jalan Tol VII: Prestasi Anak Bangsa Sahabat, Alhamdulillah, proyek jalan layang Cawang Priok ini, akhirnya dapat kami selesaikan satu tahun lebih cepat dari waktu yang diberikan pemerin...
Pemasangan Bleketepe dan Khataman Awali Acara Mantu Mbak Tutut JAKARTA – Siti Hardijanti Rukmana atau akrab disapa Mbak Tutut menikahkan putri bungsunya Danvy Sekartaji Indri Haryanti Rukmana atau biasa disapa Sek...
La Wis Kadung Nglamar Ada cerita lucu namun indah untuk dikenang dari bapak dan ibu kami, jenaka pun mesra yang ingin saya share di media ini. Suatu hari kami sedang ber...
IBU KAMI 12 BULAN DALAM KANDUNGAN Sembilan puluh lima (95) tahun yang lalu, tepatnya tanggal 23 Agustus 1923, lahirlah seorang bayi perempuan yang oleh Romo-Ibu nya diberi nama, Siti H...
Kenapa Saya Dipanggil Tutut Ada yang menanyakan kenapa saya dipanggil Tutut. Sebetulnya bukan sahabat saja yang bingung dengan nama panggilan itu. Waktu saya masih kecil, saya pe...
8 Comments
  1. Rully Lamusu says

    Sebuah dedikasi yg luar biasa, seorang cucu Presiden berusaha semaksimal mungkin dengan teman2nya tanpa dibantu oleh orang tuanya. Tidak memanfaatkan fasilitas Negara dalam hal ini ikut seleksi Paskibraka. Semoga ini jadi contoh bagi anak2 kepala Negara yg lain dan khususnya anak kepala daerah di seluruh Indonesia.

  2. Irwani Wisu Dewi says

    Alhamdulillah rasa syukut dan haru saya membaca goresan Mba Tutut untuk sang buah hati…. Patriotisme putri Mba tetap mengalir dari sang Eyang ,Pemimpin Negri ini … Saya bangga membaca goresan mba karena saya juga sosok putri yang berjuang untuk dedikasi pendidikan yang diturunkan darri seorang Bapak yang sederhana Alm Ir , H Sumarli yang menjadi STAFF AHLI Perkebunan Buana Estate , Bapak Probosutedjo. Cendana membuat saya bangga bisa untuk berjuang dan meraih semua. Teruskan perjuangan Mba sebagai bunga Cendana … Bertahun sdh berlalu bagi saya Cendana tidak akan bisa terabaikan karena saya tau kalau Cendana memiliki makna, harga dan nilai yang tidak bisa diukur hanya dengan materi namun kekuatan Allah swt selalu menjaga keluarga besar Cendana ,terlepas dari baik dan buruk…. saya hanya seotang guru yg ingin berdedikasi tapi selalu diabaikan dan akhirnya sy mengundurkan diri sekalipun sudah sertifikasi dan Infasing jabatan. Mba Tutut, jangan pernah berhenti membangun negri ini. Keluarga Cendana masih memiliki orang2 yang setia …Selamat buat Mba dan putrinya yang sudah menunjukkan kebenaran dan keteguhan pasti membuahkan hasil .Pastinya buah jatuh tdk pernah jauh dari Pohon nya. I love Keluarga Cendana . Pak Harto tetap menjadi tanda yang bernilai dan berharga tinggi di Negri tercinta ini… salam hormat teruntuk Mba Tutut dan keluarga BESAR CENDANA

  3. Dewi says

    Saya rindu dgn presiden soeharto. Rindu sosok beliau. Sosok presiden yg mengabdikan hidupnya untuk negeri tercinta. Andai saja ada presiden sebaik beliau kembali. Presiden sorharto… engkaulah presiden terbaik di Indonesia

  4. Benny Nigno says

    Mempunyai budi pekerti yang baik, seperti Presiden, H.M. SOEHARTO, Aamiin…

  5. stefanus doddy says

    Mbak Tutut, saya merinding bacanya! saya jadi ingat waktu papa (almarhum) saya pulang dari dinas di DKI Jakarta
    dan membawa pulang foto papa bersalaman dengan Bapak Presiden Soeharto – kami sekeluarga seneeeeng, bangga sekali – Terimakasih mbak Tutut, tulisan mbak mengingatkan saya pada kebersamaan, canda ceria keluarga kami terutama papa (almarhum) – doa kami sekeluarga: Semoga Tuhan selalu memberikan bimbingan dan lindungan kepada keluarga mbak Tutut. Amin

  6. Dudung says

    Terharu saya membacanya. Jd kangen saat2 upacara bendera 17 agustus jaman pak harto.

  7. Amr hmz says

    Terharu dan sampai merinding membacanya.

  8. dawud says

    Semangat yang membara sebagai patriot NKRI, tanpa tendensi apapun,.. hanyalah murni sebagai perwujudan rasa cinta tanah air dan bangsa, membanggakan orangtua, sekolah dan tentu merupakan kebanggaan diri sendiri bahwa PASKIBRAKA memanglah suatu pendidikan karakter tingkat tinggi dan sesuatu yang menurut saya prestisius . semangat kak, tanpa mengenal latar belakang dan haruslah menjadi contoh, panutan generasi muda sekarang ini. terimakasih telah menjadi salah satu inspirator kami.
    salam pramuka
    http://www.talipramuka.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.