MENCUKUR DARI BAWAH POHON SAMPAI PRESIDEN

Oleh: Siti Hardijanti Rukmana

4

Sejak bapak pindah tugas dari Semarang ke Jakarta, —sebelumnya bapak menjabat Panglima Diponegoro di Semarang, lalu sekolah SESKO di Bandung—, diberi tugas untuk memimpin CADUAD (Cadangan Umum Angkatan Darat) sebagai Panglima CADUAD dan akhirnya menjadi Panglima KOSTRAD (Komando Strategi Angkatan Darat) di Jakarta, pak Yos lah yang selalu memotong rambut bapak. Pak Yos ini tukang cukur yang mangkal di bawah pohon di jalan H Agus Salim (dekat rumah), dan juga berkeliling naik sepeda.

Sampai bapak dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, bapak tetap memanggil pak Yos ini untuk memotong rambutnya. Walaupun ada yang menyarankan agar bapak mengganti tukang cukurnya. Katanya, “masak Presiden, tukang cukurnya dari bawah pohon”. Bapak tidak mempedulikan anjuran itu. Kata bapak apa bedanya, kan pak Yos manusia juga, yang warga Negara Indonesia.

Pak Yos sendiri kaget dan terharu, karena masih dipanggil bapak walau sudah menjadi Presiden R I. Bedanya, setelah bapak menjabat sebagai presiden, Pak Yos memakai baju lengan panjang setiap memotong rambut bapak.

Namun ajal tak dapat ditolak. Kalau tidak salah tahun 1977, pak Yos meninggal dunia. Bapak merasa sangat kehilangan.

Seberapa pun kehilangan kita, yang namanya rambut tidak mau kompromi untuk tidak tumbuh. Begitupun rambut bapak semakin memanjang,

Akhirnya bapak bertanya pada saya : “Wuk kamu tahu nggak tukang cukur yang bisa dipanggil ke rumah.”

Baca Juga:  Kamu Harus Kuat

Saya jawab : “Umang saja pak, dia bisa kok motong rambut (Umang adalah tukang sisir ibu, saya, Titiek dan Mamiek).”

“Apa dia bisa, motong rambut laki-laki,” bapak bertanya kurang yakin.

“Mas In (Mas Indra, suami saya) juga potong rambut sama Umang kok Pak,” saya mencoba meyakinkan bapak.

Umang
Umang, tukang cukur bapak setelah Pak Yos meninggal. Suatu ketika diajak mendampingi bapak dan Ibu ke Tembok Cina ketika mengunjungi negara itu

Tapi rupanya bapak tidak yakin dengan penjelasan saya. Keesokan harinya bapak memerintahkan orang belakang untuk memanggil mas Indra, suami saya.

“Bapak manggil saya.” Setelah mencium tangan bapak, mas Indra bertanya.

“Anu In, rambut bapak sudah panjang, tukang cukurmu siapa?” bapak bertanya. Pada saat itu saya juga ikut ke rumah bapak. Dalam hati bicara, “eeee… bapak nggak percaya dengan saya.”

Mas Indra langsung menjawab : “Umang pak.”

“Bisa nyukur tho dia.” Bapak bertanya sambil melirik saya dan tersenyum dikulum. Saya pura-pura nggak melihat, tapi saya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala saya, seolah-olah memberi kode, “Bener kan kata saya pak.”

“Bisa pak, saya selalu dicukur Umang pak.” Mas In meyakinkan bapak.

“Kalau begitu, besok suruh kasih tahu dia dipanggil saya,” perintah bapak.

Mas Indra langsung menjawab “Baik pak nanti saya kasih tahu dia untuk menghadap bapak.”

Umang
Umang (tengah), umrah bersama keluarga saya pada awal tahun ini

Dari sejak itu, bapak potong rambut dengan Umang sampai beliau wafat. Umang ikut saya sejak tahun 1975 hingga sekarang. Umang selalu ikut Bapak dan Ibu kemanapun pergi. Karena Umang juga merupakan tukang sisir Ibu.

Baca Juga:  MEROBEK SILAM YANG KELAM

“Yaa Allah .. satukan bapak dan ibu kami di surga MU, bersama orang-orang beriman yang meninggal sebelum kami yang ENGKAU cintai ….. cintai dan sayangi ibu bapak kami ya Robb ….. aamiin.”

Jakarta 12 Juli 2018
Pukul 5.00 usai sholat subuh

Mungkin anda juga ingin membaca
TIGA KALI DIMINTA MENJADI MENTERI Sore hari, pertengahan Maret 1988, ajudan bapak memberi tahu saya : “Mbak ditimbali bapak.” Saya jawab “Ya sebentar nanti saya sowan bapak.” “Sekara...
DIET SAYA…, TIP MENURUNKAN BERAT BADAN Ada banyak yang bertanya, bagaimana keseharian saya merawat kebugaran, hingga usia saya yang hampir menyentuh usia 70 tahun. Saya ingin berbagi pen...
YDGRK KIRIM BANTUAN KAPAL NELAYAN KORBAN TSUNAMI Cendana News - Desa Way Muli, di pesisir Lampung Selatan, menjadi salah satu kawasan terdampak tsunami. Tak hanya merusakkan lingkungan, bencana ini j...
Kenapa Saya Dipanggil Tutut Ada yang menanyakan kenapa saya dipanggil Tutut. Sebetulnya bukan sahabat saja yang bingung dengan nama panggilan itu. Waktu saya masih kecil, saya pe...
Libatkanlah Selalu TUHAN dalam Perjalanan Hidupmu Suatu hari, saya bertanya pada bapak. “Bapak, kenapa saya merasa sudah berbuat benar, dan saya yakin, saya telah melakukan yang benar, tapi hasilnya d...
Temu Wicara Bapak Soeharto Saat Penanaman Hutan Taman Industri di Sum-Sel Bapak mendapat penjelasan tentang proyek Perkebunan Inti Rakyat Trasmigrasi kelapa sawit, di Sum-Sel Terpancar kegembiraan wajah bapak, setiap ka...
4 Comments
  1. Eva Badi says

    Al Fatihah, alm Bapak & ibu yg ga pencitraan ya Bu Tutut .. rindu kepemimpinan Beliau .

  2. Adibah Machmud says

    Terimakasih Banyak sudah berbagi cerita tentang bapak ibu soeharto, mengobati rasa kangen Kami. Al fatihah kepada orangtua mbak tutut insha’Allah beliau husnul khotimah. Aamiin

  3. Sri says

    Pak harto dan bu tien org yg low profile..wktu jamannya beliau tentrem..aman..apa2 murah..Seneng baca cerita tentang pak harto n bu tien..moga amal ibadah beliau dterima Allah SWT..Aamiin..

  4. Rusli rahman tumpu says

    Smilling general ku….

Leave A Reply

Your email address will not be published.