MASUKKAN BENANG KE LOBANG JARUM

0

Sore itu, bapak dan ibu sedang duduk santai, sambil ngunjuk (minum) teh dan dahar (makan) singkong, jagung serta kacang rebus kesukaan bapak. Saya nggak mau ketinggalan dong, ikut bergabung disitu. Lalu ibu melihat saya, langsung bercerita pada saya.

Acara adang (memasak nasi) sepisanan (yang pertama) dalam pernikahan saya di tahun 1972

“Wuk, dulu sewaktu kamu masih kecil, bapak ibu tinggal di Solo saat itu” ibu berhenti sejenak, “Bapak dan ibu sering berkumpul dengan kawan-kawan, dan selalu mengadakan lomba-lomba antara bapak, ibu dan kawan-kawan, maupun antara putra putri kami.”

Lajeng kadospundi (terus bagaimana) bu?”

“Para Ibu, bersepakat untuk mengadakan lomba memasukkan benang ke dalam jarum bagi putri-putrinya. Karena pesertanya lumayan banyak, jadi dibagi menjadi beberapa grup.” Termangu saya mendengarkan. “Saat itu kamu masih kelas nol, dan kamu diikutsertakan bapak dalam lomba tersebut,” ibu tersenyum, lalu melanjutkan “Kebetulan kamu paling kecil dalam grup kamu. Tapi bapak bersikeras kamu tetap mengikuti lomba tersebut.”

“Biar Tutut cari pengalaman bu.” Ngendikane (katanya) bapak.

“Bapak itu wuk sepanjang lomba, terus mbisiki di sebelahmu”

“Liat jarumnya… masukkan benangnya ke lubang jarum wuk,” kata bapak “Itu lubangnya di ujung jarum,” bapak tetap membimbing kamu. “Ayo cepat wuk, ojo kuwalik nyekele (jangan terbalik megangnya). Iya dibalik pegangnya. Hati-hati wuk. Awas jangan tertusuk. Terus dicoba, jangan nyerah wuk,” bapak mendengar cerita ibu jadi tertawa geli.

“Teman-teman bapakmu pada ngguyu kabeh ndelok (tertawa semua melihat) tingkahnya bapak. Tapi bapak nggak perduli, bengok-bengok (teriak-teriak) terus ngajarin kamu.”

Foto keluarga tahun 1974

Dalem (saya) berhasil nggak bu?” penasaran saya bertanya.

Nyekel dom wae ora nate (pegang jarum saja tidak pernah), opo meneh nglebokke (apa lagi masukkan) benang. Yo adoh soko iso wuuuk (ya jauh dari bisa nak).” Ibu menjelaskan “Sakjane (sebetulnya), ibu kasian lihat kamu ketuwal, ketuwil pegang benang dan ngliatin jarum sambil jalan menuju finish. Tapi ndelok (melihat) semangatmu tanpa nyerah, ibu jadi bangga, biar kalah juga.” Ibu tersenyum.

“Bapak agak kecewa saat itu kenapa kamu tidak bisa melakukan pekerjaan wanita tersebut. Bapak lupa kamu masih kecil, dan lawan-lawanmu, ibunya banyak yang menjadi tukang jahit.Tapi bagi bapak itu bukan alasan. Sesampai di rumah, bapak meminta ibu beli jarum dan benang.”

Sahabat tahu untuk apa?

“Bu, mulai sekarang ajarin Tutut masukkan benang ke jarum”.

“Tutut kan masih kecil pak, kalau tertusuk jarum bagaimana tho pak. Kemaren dia kalah itu karena lawannya kan ibunya penjahit pak.”

“Mereka dari kecil sudah diajari ibunya mengenal jarum dan benang. Dan mereka bisa berhati-hati memegang jarumnya. Ibu ajari Tutut berhati-hati juga memegang jarumnya, jarum barang yang tajam. Kasih sayang ibu, bisa membuat anak kita jadi tangkas sejak kecil bu.”

“Akhirnya ibu dengan sangat hati-hati dan sabar, ngajari kamu memasukkan jarum… he he. Waktu kamu bisa memasukkan benang ke jarum, kamu senang sekali, teriak-teriak, horeee… aku biso… aku biso… aku biso. Setelah kamu bisa masukkan benang berkali-kali, kamu mulai bertanya ke ibu, “Ibu, dalem sudah pinter masukkan benang ke jarum. Sekarang apa yang harus saya kerjakan? Ibu ajari dalem njahit. ”Atas permintaanmu, kemudian ibu pelan-pelan ngajari kamu menjait. Ibu memotong kain streamin putih berbentuk bujur sangkar kecil, dan ibu ajari kamu membuat sapu tangan. Alhamdulillah, walau agak kesulitan, tapi kamu semangat sekali membuatnya. Ibu lihat, kamu begitu bahagia dan bangga sekali dapat membuat sapu tangan.”

Pernikahan perak Bapak dan Ibu, 26 Desesember 1972

“Sepulang bapak dari kantor, kamu berlari menunjukkan sapu tangan buatanmu ke bapak. Melihat sapu tangan buatanmu, walau jauh dari bagus dan rapi, bapak mengangkat kamu, dan memeluk erat-erat. Dengan bangga, bapak melihat sapu tanganmu.”

“Wuah… hebat dan pinter anak bapak.” Bapak ngendiko, “Alhamdulillah yo Bu, bagus sekali sapu tangan buatan Tutut. Tapi lain kali bisa lebih rapi pinggirnya ini wuk, biar bisa bapak pakai ke kantor” … “Bapak bicara sambil melirik ibu… he he”

Mendengar cerita ibu, bapak terlihat sangat bahagia. Kebahagiaan bapak dan ibu, merupakan hadiah yang luar biasa buat saya. Alhamdulillah, kelas 4 SR (Sekolah Rakyat), sekarang SD, saya sudah bisa membuat baju sendiri.

Sahabat …

Ada hal yang istimewa yang dapat saya petik dari cerita tersebut. Bahwa tidak ada hal yang tidak bisa kita lakukan, kalau kita mendapat guru yang baik, sabar telaten dan penuh kasih sayang. Dan sebagai murid kita tidak boleh mudah putus asa, rajin belajar, dengan seksama menyimak ajaran guru.

Bapak Ibu yang kami cintai, sayangi dan banggakan. Karena Allah memberi kami orang tua sepertimu, maka kami menjadi orang yang insya Allah, walaupun mungkin hanya setitik demi setitik, tapi dapat bapak dan ibu banggakan.

Doa dan Cinta kami selalu menyertaimu… tenanglah di atas sana…

We all love you deeply.

Tempatkan Bapak dan Ibuku di sorga MU ya ILLAHI …. Aamiin.

Jakarta menjelang subuh
09 Maret 2020
Hj Siti Hardiyanti Rukmana

Leave A Reply

Your email address will not be published.