Jalan Tol IV: Kami Tidak Dapat Hanya Menunggu

Oleh Siti Hardijanti Rukmana

0

Sahabat,
Ternyata setelah kemenangan kami dalam tender jalan toll ini, masih banyak persoalan yang harus kami selesaikan. Karena proyek jalan toll Cawang Priok ini yang pelaksanaan nya pertama kali dilakukan oleh swasta, maka banyak legal-legal aspek yang harus diubah sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Sebelumnya, seluruh pengoperasian dan pengelolaan jalan toll di seluruh Indonesia, haknya diberikan pada PT Jasa Marga. Karenanya swasta yang memenangkan tender untuk melaksanakan proyek jalan toll, diatur dalam perjanjian kerja sama dengan PT Jasa Marga.

Akhirnya, dibuat undang-undang, dimana jalan toll tetap milik Negara, sedangkan swasta hanya diberi hak konsesi sepanjang waktu yang disepakati, dalam upaya untuk mengembalikan dana yang sudah dipakai, dengan perhitungan tidak dirugikan.

Saat menjelaskan kepada para Menteri yang sangat tertarik dengan pembangunan jalan toll… cawang Tanjung Priok, yang dilaksanakan oleh anak-anak muda Indonesia.

Sahabat,
Memenuhi tekad saya, untuk sebanyak mungkin, memberi kesempatan bekerja, bagi tenaga-tenaga muda, maka dengan bantuan Ir Wiyoto M.Sc., kami mulai mencari tenaga muda untuk ikut bersama kami, membangun jalan toll Cawang-Priok, sekaligus membuktikan, bahwa kaum muda juga bisa berprestasi apabila diberi kesempatan. Saya diperkenalkan dengan Djoko Ramiaji M.Sc. Anak muda yang disiplin dan tegas. Saya menginginkan dia menjadi Pimpinan Proyek jalan toll Cawang – Tanjung Priok. Dia bekerja di Bina Marga, karenanya saya harus minta izin untuk meminjam Djoko. Tentu saja pertama saya melayangkan surat, mendapat penolakan dari Bina Marga, karena Djoko masih sangat muda. Kami bahkan ditawari sederet nama-nama senior, yang sudah profesional dan berpengalaman.

Baca Juga:  Jalan Tol VI: Sosrobahu yang Berarti Seribu Pundak

Saya tidak menolak, tapi untuk memenangkan dalih saya, saya sampaikan: “ Saya lebih mengutamakan kemampuan dan semangatnya pak. Walaupun Djoko masih muda, saya yakin dia mampu menerima tugas dan menyelesaikan dengan baik.”

Akhirnya saya mendapatkan izin dari Bina Marga, untuk meminjam Djoko.

Ketika saya secara resmi menerima dia, saya katakan padanya : “Djoko, saya pertaruhkan kepala saya untuk mendapatkan kamu, mulai hari ini, kepala saya ada di tanganmu. Kalau kamu gagal menyelesaikan proyek ini, maka melayang pula kepala saya.”

Dia memandang saya dengan tatapan yang kuat, lalu mengangguk takzim sambil berkata :”Terima kasih atas kepercayaan ibu. Saya tak akan pernah menyia-nyiakan tanggung jawab besar ini.”

Djoko Ramiaji M.Sc., dalam usia 33 tahun, resmi menjadi Pimpinan Proyek jalan toll Cawang Tanjung Priok.
Untuk mendampingi Djoko, kami tunjuk:

  • Ir. F.X Joko Purwanto, usia 32 tahun, sebagai wakil Pinpro
  • Arie Prabowo M.Sc. , usia 30 tahun, Manager Divisi Pengendalian merangkap, Manager Divisi Penyiapan Operasi dan Logistik
  • Ir Thamrin Tanjung, 39 tahun , General Super intendance, yang mengkoordinir secara harian ketiga kontraktor.
  • Dipl. Ing Bambang Soeroso, 37 tahun, managerial Pusat. Untuk anak muda yang satu ini, saya tahu persis dedikasi dan kecintaannya pada bangsa dan Negara Indonesia.

Dan masih banyak lagi deretan anak-anak muda yang kami rekrut, untuk ikut membangun jalan Toll Cawang Priok. Saya mohon maaf pada yang tidak sempat tertulis namanya.

Baca Juga:  MEMERANGI LEPROPHOBYA (1): MENEPIS KERAGUAN
Pemancangan tiang pertama

Sahabat,
Kami tidak anti terhadap para pakar senior. Justru beliau-beliau, kami tempatkan pada jajaran konsultan kami, untuk mengawasi dan sekaligus memberikan ilmunya pada generasi muda Indonesia. Dengan demikian, regenerasi bidang teknologi akan tercapai secara baik dan penuh rasa tanggung jawab.

Seluruh karyawan yang terlibat dalam pembangunan proyek jalan toll Cawang Tanjung Priok pada saat itu, kurang lebih 2000 orang, dan 95 persen berusia di bawah 40 tahun. Hanya untuk sekedar menunjukkan, bahwa, yang berperan aktif saat itu Generasi Muda Anak Bangsa, dengan asistensi dan konsultasi pakar-pakar senior konstruksi.

Saya bersyukur, telah menunjuk Djoko Ramiaji sebagai Pimpinan Proyek. Dia minta tiap hari diadakan rapat untuk mengevaluasi hasil kerja. Tadinya banyak yang berkeberatan, namun setelah melihat, setiap masalah yang terjadi di lapangan, segera dievaluasi, dan segera diperbaiki apabila yang melenceng, dengan demikian, laju percepatan pembangunan, terasa sangat cepat dan benar sesuai hitungan.

Sahabat,
Setelah kami dinyatakan menang, maka konsorsium sepakat membentuk PT yang diberi nama, PT Citra Marga Nusapala Persada. Pada awalnya saya duduk sebagai Komisaris Utama, namun desakan kawan-kawan konsorsium, agar saya terjun aktif dalam penanganan proyek ini, karena menurut mereka selama ini yang melakukan diskusi aktif ke mana-mana hingga proyek ini kami menangkan adalah saya, dan akhirnya saya ditunjuk sebagai Direktur Utama.

Baca Juga:  MEMERANGI LEPROPHOBYA (5): KINI MEREKA BERPRESTASI

Kami mulai bekerja dengan pihak pemerintah, mengenai perubahan undang-undang, maupun dengan pihak sindikat Bank.

Para staf yang menjalankan pemutaran pear head … berfoto bersama para Menteri

Kredit yang kami ajukan pada bank, belum mendapatkan persetujuan. Tim verifikasi, belum lagi memulai kerjanya untuk menilai, apakah pinjaman yang akan diberikan Bank Bank itu, akan merupakan investasi yang aman. Artinya, jalan untuk mendapatkan uang tunai di tangan, guna membiayai proyek tersebut, masih panjang dan belum dapat dipastikan akan kami dapatkan.

Sementara, proyek ini punya batas waktu penyelesaiannya yang tidak dapat kami tawar. Kami tidak dapat hanya menunggu. Sekarang atau besok, masalahnya tetap sama. Akhirnya dengan segala keyakinan, serta perhitungan perhitungan matang, kami memutuskan untuk melakukan pemancangan tiang pertama. Dengan dana yang saya punya, sambil menunggu keputusan bank. Namun, hanya sebatas untuk keperluan pemancangan tiang pertama.

Dengan memohon ridho-Nya, dan dengan segala keterbatasan yang kami miliki, akhirnya kami laksanakan pemancangan tiang pertama, pada tanggal 30 Juni 1987, awal dari pekerjaan pembangunan jalan toll Cawang Tanjung Priok, dimulai.

Dan ternyata, merupakan pula, awal dari sebuah masalah yang lebih besar.

Jakarta, 16 September 2018

Mungkin anda juga ingin membaca
Foto: Pelepasan Peserta Kirab Remaja Nasional (KRN) di Sulawesi Utara Klik gambar untuk melihat galeri Upacara Pelepasan Peserta Kirab Remaja Nasional (KRN) di Sulawesi Utara, 11-02-2018. Bersama peserta Kirab Remaja Na...
Kisah Cinta Cucu Soeharto dan Pasangannya: Sahabat Jadi Cinta JAKARTA - Kabar bahagia datang dari keluarga Cendana. Siti Hardiyanti Indra Rukmana atau Tutut Soeharto akan menikahkan anak bungsunya, Danvy Sekartaj...
“PASKIBRAKA” Setiap kali saya meliat foto di atas, rasa bangga, haru dan bahagia selalu menyelimutiku. Saya ingat betul bagaimana Danty sampai terpilih menjadi Pas...
PASMA KIRAB TARI BELO Senangnya bersilaturahmi dengan anak-anak Pasma KRN 2018. Lepas kegiatan utama bakti sosial dengan warga, mereka berkumpul dan mengibur saya dengan ta...
SOAL SATWA LIAR Saya dan keluarga penyuka binatang. Binatang-binatang yang kami piara, tinggal satu rumah dan menjadi teman sepermainan anggota keluarga. Seperti f...
Jalan Tol VI: Sosrobahu yang Berarti Seribu Pundak Sahabat, Dengan dapatnya kami bridging finance dari sumber di luar negeri, membuat semangat kami semakin terpacu. Mengingat banyaknya waktu yang tela...

Leave A Reply

Your email address will not be published.