IBUKU MEMANG JEMPOL

(Oleh: Siti Hardijanti Rukmana)

9

Bila aku mengingat cerita ibu, lucu ceritanya. Tetapi selalu penuh motivasi bagaimana kita mengatasi kehidupan. Kisah ini ketika bapak menjadi Danrem di Yogya, kami tinggal di jalan Pugung 4D, rumah dinas bapak.

Ibu bercerita …“Dek semono wuk (waktu itu nak), bapak jadi Danrem, yang nderek (ikut) bapak ibu banyak, adik-adiknya bapak dan adik-adiknya ibu, dan saudara-saudara. Gaji bapak saat itu nggak cukup untuk menyediakan makan orang sebanyak itu. Kalau beras cukup,” ibu merenung sambil tersenyum.

Aku lantas bertanya : “Lalu makan apa bu semuanya, makan bubur ya bu”.

Adik-adik dari Pak Harto dan Ibu Tien 2
Adik-adik dari Pak Harto dan Ibu Tien yang ikut tinggal di rumah dinas Pak Harto

Bapak sambil tersenyum bangga memotong pembicaraan kami : “Ibumu itu pinter dan banyak akalnya. Makanya bapak pilih jadi istri bapak”.

“Walah wong bapak kecele kok, kendel (diam) disik tho pak,” kata ibu menanggapi komentar bapak.

Ibu sambil tersenyum bercerita lagi : “Ora wuk (tidak nak), Ibu cari akal, bagaimana cara memberi makan tanpa harus berpuasa dan makan bubur. Di halaman rumah, ibu tanami cabe, tomat, terong dan beberapa bumbu dapur, seperti jahe, lengkuas, jeruk.”

“Tapi kan nggak bisa langsung dipanen bu,” kata saya.

“Sambil menunggu panen ibu irit banget blonjone, sudah mau habis gajinya, untung cepet panen cabe, soale ibu beli bibitnya wis rodo gede, ibu beli tempe, ibu bikin lodeh tempe tapi cabenya banyak dan kuahnya ibu banyakin,” ibu menjelaskan.

Baca Juga:  Jalan Tol VII: Prestasi Anak Bangsa

Saya menyela cerita ibu : “Lak cabenya banyak pedes banget tho bu”

Ibu tersenyum : “Memang itu maksudnya, ben pedes dadi ora dientekke. Kabeh podo maem, kata om-om lan tante tante mu, ‘pedes mbakyu… ning enak’. Lauknya satu saja tapi makan banyak semua. Kamu tau wuk, esukke (paginya)”… ibu tidak bisa menahan tertawa terkekeh-kekeh.

“Ada apa bu paginya?”, saya bertanya sambil menebak-nebak.

“Kamar mandinya antri, soale podo mules kabeh,” ibu menjawab sambil tetap tertawa geli.

Kami tidak dapat menahan gelak tertawa. Ibuku memang jempol.

“Tiap hari ibu masakin lodeh tempe, kalau terongnya sudah besar ya ganti lodeh terong, tapi tetep pedes dan banyak kuahnya. Sekali sekali ibu dadarin telor dan bikin sambel bawang. Sing penting semua bisa makan cukup,” cerita ibu.

Adik-adik dari Pak Harto dan Ibu Tien
Adik-adik dari Pak Harto dan Ibu Tien yang ikut tinggal di rumah dinas Pak Harto

Saya tanyakan ke ibu : “Kena apa ibu nggak ternak ayam telor bu, jadi kan bisa ambil telornya nggak usah beli?”

Jawab Ibu : “Nggak punya modal buat itu wuk, nggo makan saja kurang.”

“Iya kan pak,” ibu minta penegasan dari bapak.

“Pak kok diem saja tho,” kata ibu ke bapak mulai agak jengkel.

Dengan tersenyum senyum bapak menjawab: “ Lho tadi katanya disuruh diem, sudah boleh bicara tho. Iya betul wuk. Kalau bukan ibumu, kita sudah kelaparan semua.”

Sambil bersungut manja ibu menjawab: “Bapak itu selalu begitu,”

Baca Juga:  Kenapa Saya Dipanggil Tutut

Kenangan manis bapak dan ibu yang selalu memicu saya untuk tidak menyerah dalam keadaan apapun juga. Selama ada kemauan, disitu selalu ada jalan.

Jakarta, 27 Mei 2018
Menjelang Ashar, menunggu berbuka puasa.
Siti Hardijanti Rukmana

Mungkin anda juga ingin membaca
Tutut Soeharto Beberkan Kedekatan Pak Harto dan KH. M Ma’shum JAKARTA --- Dalam sebuah acara di Pondok Pesantren Al-Ishlah, Bondowoso, Jawa Timur, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) mengisahkan awal mula ke...
“PASKIBRAKA” Setiap kali saya meliat foto di atas, rasa bangga, haru dan bahagia selalu menyelimutiku. Saya ingat betul bagaimana Danty sampai terpilih menjadi Pas...
Nikmati Hidup ini Teringat akan suatu saat di tahun 80-an dimana waktu itu aku akan mencoba ikut tender jalan tol yang diselenggarakan oleh Jasa Marga. Namun sebelumnya...
MEMERANGI LEPROPHOBYA (3): TITIK TERANG DI SUDUT HARAPAN Selepas dari kunjungan ke Rumah Sakit Sitanala, di setiap kerja saya ke daerah, selalu memberikan penyuluhan pada masyarakat muda maupun tua. Merek...
MEMERANGI LEPROPHOBYA (4): MEREKA JUGA PEMBANGUN BANGSA Kami para pekerja sosial yang tergabung di HIPSI (Himpunan Pekerja Sosial Indonesia), dimana saya Alhamdulillah sebagai Ketua Umum-nya, dengan izin da...
MEMERANGI LEPROPHOBYA (2): MENEMANI PENDERITA Mohon maaf sebelumnya apabila foto foto yang saya sertakan dalam tulisan ini kurang berkenan. Bukan bermaksud menebar sadisme. Tiada lain untuk mengaj...
Bapak Kami Melarang Dendam Dalam heningku di bulan Ramadhan ini, teringat aku suatu peristiwa yang tak akan aku lupakan selamanya. Ketika 20 tahun lalu, Mei 1998, Bapak (Jendera...
9 Comments
  1. Yohannes Ekawan Yunarko says

    KAMI DARI DULU HINGGA SEKARANG … tetap mencintai dan menghormati BAPAK AGUNG dan IBU AGUNG … CINTA DAN HORMAT KAMI TIDAK AKAN PERNAH LUNTUR … selama nya …. aminnnnn

  2. Ardi Rahma says

    Assalammualaikum….. Ibu SHR, sy jd teringat saat direct acara taping via TPI diacara peringatan HUT Perkawinan Pak Harto dan Ibu Tien di Museum Purnabhakti Pertiwi TMII yg ke 45 TH, kenangan yg tak terlupakan ketika sy di”tepuk” pundak sm (alm) Pak Harto selesai acara dan beliau sempat bertanya ; ” keluargamu sehat ? “……..

  3. Sadlian Noor says

    Inspiratif sekali mbak…

  4. Angger says

    Beliau Berdua adalah Panutan Sejati

    Kita harus selalu berusaha mengikuti dan mencontohnya

  5. Lina Wahyuni says

    Sangat bersahaja.. dermawan..
    semoga pahala melimpah mengalir tak terhingga kepada alm Bapak Soeharto dan almh Ibu Tien..

  6. Anang Yuliardi says

    Allahu Akbar…. tidak salah kalau dari duku sampai sekarang saya mengidolakan Bapak Soeharto dan Ibu Tien…. sekarang memang lagi jamannya menghujat beliau, namun sejarah akan membuktikan bahwa Pak Harto dan ibu adalah Pahlawan Negara….

  7. Bambang Irianto says

    Masyaa Alloh…kenangan indah yg sangat mengharukan mbak….!!kenapa semua catatan ini tidak dibukukan saja mbak….??

  8. Behamami says

    Semoga keluarga Pak Harto tetep dslam Rahmat dan hidayahNya

  9. Adi says

    Jujur susah menahan air mata yg jatuh ketika mendengar cerita ini. sejak dahulu saya gak yakin kalau pak Harto itu seperti yg di bicarakan org2. saya pelajari juga kisah2 sejarah orba dan siapa dalang dibalik semua itu seketika saya tahu kalau dalang2nya itu adlh org2 kepercayaan Pak Harto sendiri Jend. Moerdani dkk tapi media mainstram selalu dan terus2an menggiring opini kalau orba itu individu yg disudutkan hanya Pak Harto yg bertanggung jawab padahal otak2nya agen CIA dan munculnya jaringan Pater Beck dan kader2 militannya yg anti islam. saya sedih ketika org2 bicara orba pasti Pak Harto.
    Semoga bpk. Suharto ditempatkan disyurganya Allah SWT. amin YRA.
    dan kebusukan org2 yg memfitnah Pak Harto segera terungkap.

Leave A Reply

Your email address will not be published.